Ketika Hantu Resesi dan Disrupsi Global, Pengusaha Harus Mengubah Persepsi Kepemimpinan
Ketika Hantu Resesi dan Disrupsi Global, Pengusaha Harus Mengubah Persepsi Kepemimpinan

Studi-studi di berbagai penjuru dunia telah menunjukkan, bahkan pada masa resesi pun, faktor leadership menjadi penentu yang besar


Fakta Analisa.  Berbagai data ekonomi negara-negara di dunia menunjukkan penurunan yang sangat signifikan.  Setelah tulisan saya terdahulu yaitu resiko gagal bayar dari sejumlah perusahaan besar, maka tulisan kali ini akan lebih menekankan pada warning resesi dan disrupsi global yang menjadi ancaman resesi serius menghadang di depan mata.

Resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika produk domestik bruto (GDP) menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.  Sedangkan disrupsi apabila diartikan dalam bahasa sehari-hari berarti perubahan yang mendasar atau fundamental ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya. 

Kini gejala resesi dan disrupsi kembali menghantui pengusaha hampir diseluruh dunia tak terkecuali di Indonesia. Apalagi setelah UNTAD (Organ PBB yang mengurus pembangunan dan perdagangan dunia) mengumumkan ancaman resesi global 2020 yang mengancam negara-negara berkembang dan negara industri sekalipun.

Melemahnya pertumbuhan ekonomi global sepanjang tahun 2019 adalah sinyal penting untuk memasuki tahun 2020. Bank Dunia memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi lebih lambat di hampir 90 persen dunia pada 2019 dan akan berdampak pada tahun 2020.  Bank Dunia (PDF) juga telah merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi global menjadi 2,6 persen dari sebelumnya 2,9 persen.

Tanda-tanda faktual saat ini memang semakin jelas. Selain antara Amerika Serikat dengan Tiongkok, kini perang tarif diberlakukan Presiden Donald Trump kepada India, Kanada, Meksiko, dan Uni Eropa.  Tiongkok tengah dipaksa menghadapi dilema baru. Pertumbuhan sektor industrinya melemah, terendah sejak 30 tahun belakangan ini menjadi 4,8 persen (2018) dan Q2 2019 lebih buruk lagi, tinggal sekitar 2 persen.  Sanksi yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Tiongkok itu segera mengganggu sejumlah negara yang menghasilkan produk dan permesinan untuk menembus pasar Tiongkok.

Jerman misalnya, memasuki ancaman resesi setelah Q2 kemarin ekonominya mengalami kemunduran yang hebat (minus 0,1 persen) karena mesin-mesin buatannya tidak dibeli Tiongkok. Demikian pula investor-investor mulai menarik diri dari Inggris, karena ketidakpastian Brexit.

Di Asia, selain Tiongkok, dan India, negara-negara yang mengandalkan perekonomiannya dari sektor ekspor mulai terganggu.  Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Jepang mulai terancam resesi.  Tetapi benarkah ancaman resesi menjadi satu-satunya hal yang harus dikhawatirkan pengusaha saat ini.  


Selain ancaman resesi masih ada persoalan disrupsi dan leadership.  Disrupsi Mengubah Peta Pasar dan Industri tentunya.  Disrupsi mengakibatkan kemunduran dalam output.  Dengan demikian, para top manajemen harus bisa memilah bahwa anjloknya produksi disebabkan oleh resesi atau disrupsi.  Para leader industri harus bisa membedakan mana kemunduran akibat resesi dan mana yang diakibatkan disrupsi.  Studi-studi di berbagai penjuru dunia telah menunjukkan, bahkan pada masa resesi pun, faktor leadership menjadi penentu yang besar.  Masalahnya, berita-berita tentang resesi bukan hanya mengganggu ekonomi, tetapi juga melunturkan semangat juang CEO dan jajaran manajemennya. 

Fakta menunjukkan bahwa sekitar 90 persen CEO terbukti mendapatkan pembenaran atas memburuknya kinerja mereka dari berita buruk tentang perekonomian.  Sisanya sepuluh persen lainnya yang memilih keluar dari paradigma itu dan mengambil cara yang berbeda sehingga 70 persen di antaranya berhasil.  

Itulah yang disebut sebagai confirmation trap.  Kita masuk ke dalam perangkap pembenaran, yaitu adanya informasi-informasi yang bisa membenarkan kesalahan sendiri. Sebab semua orang letih mempertahankan stamina untuk terus tumbuh. Maka ibarat akhir pekan, semua sepakat perlu hari leyeh-leyeh sejenak.  Faktanya, di tengah-tengah resesi, sedang berlangsung sebuah proses perubahan besar yang meluluhlantakkan puluhan ribu jenis usaha yang tidak efisien. 

Usaha-usaha yang terancam itu adalah usaha yang hidup dari peran brokerage yang memakan waktu yang panjang. Termasuk usaha-usaha yang menimbulkan persoalan consumer’s pain, dan membebankan biaya tinggi, serta menyandang fixed cost yang besar.  Semua itu tergantikan oleh digital disruption sehingga mesin bisa menggantikan manusia dan peta pasar berubah.

Padahal solusi bagi resesi bukan semata-mata suntikan moneter dan fiskal, juga bukan membuat harga saham naik. Melainkan penciptaan pekerjaan atau lapangan-lapangan kerja baru. Secara sederhana, resesi menimbulkan income effect, sedangkan disrupsi menimbulkan substitution effect.  Selain disrupsi dan resesi, kemunduran usaha juga disebabkan oleh kesalahan pengusaha sendiri. Terlalu naif bila kita selalu menyalahkan keadaan dan kemunduran yang kita alami. 

Usia pengusaha yang semakin tua, inovasi yang berhenti, ketiadaan penerus atau tim manajemen yang handal, kesalahan dalam mengembangkan produk, terlalu nyaman dengan pertumbuhan yang dinikmati selama bertahun-tahun, adanya regulasi yang menghambat, bisnis model yang tak lagi sesuai, beban biaya yang terlalu besar, dan lain sebagainya sangat mungkin dialami oleh pengusaha. Bahkan pada masa-masa yang sulit seperti ini, dibutuhkan energi muda yang sangat kuat. Saat ini kehadiran lawan-lawan baru tak lagi kasat mata seperti di masa-masa lalu. Oleh karena itu menghadapi masa resesi, perlu ada tindakan nyata dalam perubahaan tata cara memandang kepemimpinan dan usaha (changes management).

Ir.Lindur Siburian, ANZIIF, AAAIK

Penulis: Ir.Lindur Siburian, ANZIIF, AAAIK

RISK MANAGEMENT & FINANCIAL Consultant, Founder of Knowledge Center
Graduated from Statistical Science, IPB, Post Graduated UI, working experience in Marketing Research Consultant, Banking, General Insurance,  Insurance Consulting and many area of Financial and Economic sector.


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook



Profil Faktaterbaru

Faktaterbaru.com adalah media online Indonesia yang menyajikan fakta terbaru dari sebuah isu dan berita, baik di Indonesia maupun Seluruh Dunia.  Kebanyakan media online saat di bangun dari perusahaan besar atau di bangun oleh orang-orang media , Tetapi kami adalah sekumpulan para pakar dan ilmuawan dalam berbagai bidang Ekonomi, Sains,  Politik dan Sosial Budaya.  Faktaterbaru.com bukanlah yang pertama [...]

Facebook

Twitter