Berselancar Di Atas Ego Membuat Kita Bego
Berselancar Di Atas Ego Membuat Kita Bego

: Andi Hakim Nasoetion


Beberapa hari yang lalu saya mendapat undangan. Bukan undangan menghadiri pernikahan, tetapi undangan untuk memasukkan biografi. Yang mengundang suatu lembaga, katakanlah “Lembaga Amerika Penyusun Biografi Orang Ternama”. Alamatnya pun adanya di Amerika. Di kota tempat saya dahulu sekolah sepertiga abad yang lalu. Apa pasalnya saya mendapat undangan itu? Menurut penelitian mereka, saya ini ternyata termasuk 500 pemimpin paling berpengaruh abad keduapuluh. Oleh karena itu katanya riwayat hidup saya patut diabadikan di dalam suatu buku rujukan biografi “Limaratus pemimpin ternama paling berpengaruh abad keduapuluh”.

Sewaktu membuka undangan itu saya merasa terbuai. Menurut kepercayaan yang saya imani orang kalau bekerja tidak boleh mengharap penghargaan dari manusia. Ia hanya boleh mengharap pahala dari Tuhannya saja. Dalam lingkungan saya bekerja pun dikatakan bahwa di negara ini guru adalah satu-satunya jenis pahlawan yang tidak memerlukan tanda jasa. Cukup kalau ia diwajibkan berseragam Hansip setiap hari Sabtu. Ia harus bergembira kalua pada suatu ketika menjadi lebih bodoh daripada muridnya. Ia juga harus merasa sedih kalau selalu tetap lebih pintar dari muridnya.

Akan tetapi guru, termasuk saya ini juga manusia. Karena ia manusia, dia juga memiliki “ego”. Sewaktu disurati lembaga yang menamakan dirinya lembaga “Amerika” maka ego saya pun tersengat bangga. Kalau lembaga ini hanya ada di RT saya mungkin saya tidak akan bangga. Seperti juga orang tidak merasa yakin kalau hanya mengikuti kursus komputer yang namanya adalah “Lembaga Komputer Bojong Enyod”. Lain halnya kalau Bojong Enyod itu adanya di Amerika dan bukannya di suatu desa pinggiran di Bogor Timur.

Maka saya pandang-pandanglah formulir isian yang harus saya lengkapi. Formulir itu dicetak di atas kertas halus berwarna biru-tua dengan segel kuning emas. Katanya, kalau saya lengkapi formulir itu dan isinya sampai di seberang lautan pada tanggal 21 Juni yang akan datang, saya akan menerima suatu piagam berbingkai kayu “oak” yang dapat saya gantungkan di dinding belakang meja-kerja saya. Asal saja saya mengirimkan ganti-rugi sebesar US$ 100. Orang yang bertamu ke ruang kerja saya pun akan tahu bahwa saya termasuk 500 pemimpin dunia yang paling berpengaruh di abad ke-20 ini. Termasuk mahasiswa-mahasiswa saya akan terpesona dan tidak mau lagi bolos dari kuliah-kuliah saya karena merasa beruntung pernah mengikuti kulaih yang begitu memusingkan kepalanya dari seorang pemimpin abad keduapuluh yang sangat berpengaruh.

Riwayat hidup saya dilengkapi dengan foto-warna berukuran kartupos akan dimuat di dalam buku kumpulan biografi. Kalau saya menginginkan edisi luxnya, katanya silakan kirim melalui kartu kredit saya US$ 798 ke alamat lembaga itu. Kalau perlu beberapa buku lagi untuk ditempatkan di perpustakaan kantor, silakan pesan juga edisi perpustakaan yang harganya US$ 240.

Walaupun saya termasuk orang yang kurang pandai berhitung, saya tahu 100 dolar ditambah 798 dolar sama dengan 898 dolar dan jumlah itu sama dengan hampir satu juta sembiranratus ribu rupiah. Pada ketika itulah saya mulai sadar bahwa untuk dianggap sebagai pemimpin ternama walaupun sebenarnya bukan, kita harus membayar mahal. Mahalnya memang menurut ukuran saya sebagai gurubesar PTN. Uang sebesar itu hampir dua bulan gaji. Entahlah kalau gaji saya sepuluh ribu dolar sebulan seperti layaknya bagi seorang guru besar di kota tempat lembaga itu bertapak.

Maka bersyukurlah saya atas nikmat yang diberikan kepada saya untuk memilki gaji yang jauh lebih kecil daripada biaya yang diperlukan agar mendapat ijazah sebagai pemimpin ternama. Apa jadinya jalau saya mampu membayar dan di dalam buku itu tercantum biografi saya? Tanpa berpikir lebih panjang hal itu tentu saja sangat menggembirakan. Juga bagi penerbitnya yang sudah merasa terjamin bahwa buku itu laku dengan harga mahal karena dibeli sekian banyak orang yang biografinya dimuat di dalamya. Tetapi apa jadinya kalau ada orang yang bertanya kepada saya mengapa orang masyhur tertentu yang sudah disepakati seluruh dunia memang merupakan pemimpin yang sangat berpengaruh, tidak ada biografinya di buku itu? Bagaimana menjawab pertanyaan musykil seperti itu?

Lunturlah ego saya dan sadarlah saya bahwa kalau saya ingin menunjukkan kehebatan saya, jalannya tidak mungkin dilakukan dengan menempel piagam belian di dinding di belakang meja kerja saya. Orang hanya yakin kita ini memang hebat, kalau hasil kerja kita selama ini besar pengaruhnya. Biarlah saya kembali ke dua ayat terakhir surat al-Insyirah yang maknanya kira-kira ialah “Kalau engkau telah menyelesaikan suatu pekerjaan dengan baik, tekunilah lagi pekerjaan lain, namun harapkan pahalanya hanya dari Tuhanmu saja!” Yang tahu kerja kita beres atau tidak hanyalah Dia.

Bogor, 11 Juni 1993

Oleh : Andi Hakim Nasoetion

Redaksi

Penulis: Redaksi

Redaksi senior Faktaterbaru, memiliki tulisan yang sudah tersebar di media massa nasional


Iklan Tengah Detail Foto Berita 665x140px

Berita Terkait

Form Komentar



Masukan 6 kode diatas :

huruf tidak ke baca? klik disini refresh


Komentar Via Facebook



Profil Faktaterbaru

Faktaterbaru.com adalah media online Indonesia yang menyajikan fakta terbaru dari sebuah isu dan berita, baik di Indonesia maupun Seluruh Dunia.  Kebanyakan media online saat di bangun dari perusahaan besar atau di bangun oleh orang-orang media , Tetapi kami adalah sekumpulan para pakar dan ilmuawan dalam berbagai bidang Ekonomi, Sains,  Politik dan Sosial Budaya.  Faktaterbaru.com bukanlah yang pertama [...]

Facebook

Twitter